Pembelajaran Moral Santri

ù

Kabar yang menyedihkan pernah “menyapa” sebuah departemen yang seharusnya bisa memberi contoh kepada departemen lain, departemen yang sebagian anggotanya pernah menjadi santri, ironis memang. Para santri  hampir setiap hari mendapatkan pelajaran moral yang didapat dari quran, hadits, mahfuzhat, ceramah, doktrin dsb. Sepantasnya “gemblengan”ini menjadikan santri “lebih soleh” dibandingkan mereka yang “bukan santri” yang tidak mengenyam pesan agama sesering para santri.

sudah saatnya bagi pemerhati pendidikan Islam untuk mulai mengevaluasi metodologi pembelajaran di pesantren, khususnya pembelajaran moral. Metodologi pembelajaran moral  saat ini apakah bisa mengajak para santri untuk merasakan dan mengerti kandungan sebenarnya dari pesan moral yang disampaikan. Pesan moral yang diajarkan islam itu  sempurna, tetapi bila cara penyampaiannya tidak tepat, maka tidak akan menjadi pengekang bilamana seseorang lupa.

Berdasar pada pengalaman pribadi, kebanyakan guru pesantren mengajarkan akhlak dengan menitik beratkan hafalan dan pemahaman arti harfiah. dulu waktu nyantri, kitab akhlakul banin, yaitu kitab yang menjadi pedoman dasar pengembangan akhlak pemula di pesantren salaf , diajarkan dengan metode sorogan dimana guru membaca dan mengartikan kata perkata. Ketika selesai menerangkan, semuanya mendapatkan giliran membaca kembali apa yang sudah diartikan, sayangnya mereka jarang ditanya sejauh mana mereka memahami pesan itu, malahan yang hafal di luar kepala bisa pulang duluan. Ustadz saya selalu menerangkan “kalian kalau melakukan ini  akan disiksa di neraka, dibenci tuhan, tidak akan masuk surga dll”. Alasan agama selalu menjadi motif utama apakah suatu perbuatan dilakukan atau tidak. padahal masih banyak alasan yang bisa  dijelaskan secara logika, tapi sayang logika jarang dipakai. contohnya ketika santri ditanya  tentang alasan menjaga kebersihan, jawaban pertama yang muncul adalah kebersihan itu  sebagian dari iman, tetapi apakah mereka benar-benar mengerti alasan ” kenapa kebersihan itu menjadi bagian dari iman?”, sepertinya tidak semua santri bisa menjawabnya. bila suatu pesan moral diajarkan hanya dari segi agama dikhawatirkan keimanan seseorang berkurang sehingga dia akan kehilangan alat pengekangnya. peran pemakaian logika dalam penyampaian pesan agama sangat penting sekali karena penggunaan logika akan mengarah kepada pemahaman yang hakiki tentang suatu pesan. c

seorang pengajar materi moral harus membekali dirinya dengan kemampuan menganalisa suatu masalah dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari dalil agama. sebagai contoh  bila hendak melarang santri untuk meludah di sembarang tempat, dia harus bisa menganalisanya dari sudut kesehatan atau dampaknya pada lingkungan.

Berguru pada orang jepang, seperti yang saya alami hablun minan naas mereka atau hubungan antar sesama manusianya boleh dikatakan lebih baik dari orang indonesia, padahal orang jepang menganggap agama itu bukan hal yang penting, terbukti dari banyaknya masyarakat jepang yang beragama lebih dari satu atau percaya pada semua tuhan. Hal ini  menjadi pertanyaan yang besar buat kita orang indonesia yang menjadikan agama sebagai “way of life”, kenapa hal ini bisa terjadi. sepertinya perlu tafakkur yang lebih mendalam lagi tentang metodologi pembelajaran moral yang pernah dialami.

Ada beberapa masalah  mendasar yang harus dievaluasi lagi tentang cara  penyampaian  materi  moral di dunia  pesantren, diantaranya:

  1. kurangnya pemakaian logika dalam penyampaian materi moral. Para guru hanya memakai dalil-dalil agama. contohnya alasan  larangan ghibah sering hanya ditekankan dari dalil quran atau hadis. padahal ghibah bisa dijelaskan dari beberapa aspek, baik sosial, kemanusiaan ataupun keamanan. pemakaian logika masih jarang dilakukan sehingga kurang membentuk pemahaman yang hakiki di jiwa santri.
  2. banyaknya materi moral yang diterima santri dan  disampaikan tanpa penjelasan yang jelas tentang intisarinya.
  3. cara evaluasi yang kurang tepat.  kebanyakan evaluasi dilakukan dengan keharusan menghapal pesan moral tersebut, seperti dalam pelajaran mahfuzot. juga evaluasi hanya dilakukan dengan mengukur kemampuan santri dalam membaca dan mengartikan kalimat dalam bahasa arab, seperti  kitab akhlakul banin.
  4. cara penyampaian yang lebih  cenderung berbentuk satu arah, santri hanya menjadi pendengar  “setia”.

pemakaian audio visual dalam penyampaian materi moral sangat membantu memahamkan pesan kepada santri, seperti pemutaran film hidayah. bahkan efeknya bisa  lebih besar dari ceramah biasa. pemutaran film ini bisa dikatakan praktikum dari teori yang telah disampaikan, teori yang dibarengi dengan praktik akan lebih mudah dipahami dan lebih berbekas.

Materi moral harus dipahami, dihayati dan dirasakan oleh santri. materi itu harus masuk kedalam hati para santri dan betul-betul dimengerti.  Pesan moral harus dijelaskan bukan hanya dari segi agama, tapi juga dari sisi kemanusiaan tanpa memandang agama, runtutan akibatnya, penjelasan ilmiahnya dll.

Semua santri harus bisa menjelaskan secara logika alasan dan inti sebenarnya dari suatu pesan moral. Bukan hanya dengan menghapalnya di luar kepala dan bukan pula hanya karena takut neraka atau ingin masuk surga.

 

 

 

ùõ÷ûiD÷ÖüÆC ÷ÛùÕ øû×÷å÷Eøö÷¿üéùn÷û©Æ÷C

 

9 responses to “Pembelajaran Moral Santri

  1. I am with You man, bukanya kita tidak suka dengan metode lama seperti ceramah yg kadang membuat borring, tp emang zaman sekarang logika anak udah mulai berjalan lebih, hingga ga’ bisa sekadar doktrin2 aja yg imbaznya nilai Agam ga’ masuk ke hati dan teraplikasikan. Itu semua tugas kita.

  2. Assalaamu ‘alaikum, damang Den…?
    Lami keneh di Jepang? Ari Deden masih katalian keneh wargi sareng kulawargi Pontren Sukamiskin? Uninga ka KH. Imam Sonhaji? Kalaresan bebesanan sareng pun bapak

    wa’alaikum salam kang ram-ram
    oh kitu, nya urang jadi baraya atuh. abdi teh uyutna K.H Ahmad Dimyathi, pendiri pontren Sukamiskin. K.H Imam Sonhaji ka eyang teh (Alm Hj. Wardah Anisah ) kapi bibi ti istrina. mudah-mudahan teras manjang silaturrahmina. Insya Alloh 2009 maret wangsul deui ka indonesia..

  3. Memberi contoh keteladanan dan memberi informasi ttg yg dicontohkan/diteladankan dengan cara, pendekatan yang jitu sesuai sikon. Silakan dikaji berapa lama idealnya sorogan/hafalan buta yang efektif dan berapa lama ditindaklanjuti dengan analisa yang tajam. Mungkin ada masanya hafal buta dan ada masanya pake analisa.

    Maaf seperti sok tahu ya.

  4. Assalamu’alaikum,
    Barangkali sudah waktunya kita melepaskan kacamata kuda.
    Tidak melulu baca kitab kuning, tapi juga kitab putih.
    Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mengaplikasikannya dalam realitas sosial.
    Sehingga kita, tidak sekedar jadi jago kandang.
    Serta tidak apriori terhadap kemajuan teknologi, sehingga lulusan pesantren tidak gaptek.
    Wassalam

  5. Wah benar juga yah, moralitas seorang santri benar2 dibuat keder oleh kelakuan tingkah polah orang Timur, Barat , Utara Selatan.

    Menurutku ini bukan karena santri kurang pelajaran moral tapi masalah siklus dengan alam yang sangat terbatas. Bayangkan bagaimana mungkin pesantren dengan linkup kecil bisa mengakomodasi etis realigius dalam sekup besar.

    Tapi memang benar, santri yang sadar itu adalah yang bisa mengoleksi semua etis2 yang ada di dunia seperti sampean ini di Jepang. Teruslah berbagi kontradiksi sebagai masukan buat santri2 anywhere..

    izin kopi paste buat web buntet yah… sebagai kritikan yang bagus…

  6. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Lam kenal aja kang Deden .
    menarik juga dlm masalah akhlak memang itulah yang harus di realisasikan dalam pemahaman ilmu kita bukan hanya teori tapu harus praktek “ilmu tanpa amal adalah kosong dan amal tanpa ilmu adah bohong” …………….. memang banya orang yang kurang memperhatikan pepatah itu

  7. salam alaik,
    izin kenalan mas Deden,
    memang pesantren dari segi metodologi pembelajarannya masih “agak” konvensional mas, tapi bagi pesantren yang masih “benar-benar” pesantren, punya satu keunggulan metode, yakni uswah hasanah

  8. lam kenal….
    memang harus diakui selama ini internalisasi moral di pesantren baru dapat direalisasikan lewat kondisi sosial kehidupan yang ada di pesantren semata. sementara untuk melalui sistem pelajaran belum tercapai

  9. Sebenarnya apa yang dipelajaridi pesantren adalah tekstualnya, namun untuk kehidupan i masyarakat harus kontekstualnya. Artinya, apa ang kita pelajari dari Al-Qur’an atau kitab, kemudian difahami lalu dicari bagaimana menerapkannya di masyarakat. Untuk kalangan masyarakat tidak bisa kita mengajarkan atau mendakwahkan menurut surat ini ayat ini, atau kitab ini, tapi mengajarkan ke masyarakat adalah dengan prakteknya. Oleh karenanya bekal ilmu yang diberikan kepada para santri setelah tekstual adalah kontekstualnya bagaimana penerapannya, kalau belum bisa penerapannya maka belum lulus, karena orang dikatakan berilmu kalau ada penerapan, kalau tidak ada penerapan maka tidak akan terlihat berilmu. Apa yang terucap baru kita ketahui bahwa seseorang itu punya pengetahuan, tapi apa yang dilakuan baru kita ketahui bahwa seseorang itu punya ilmunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s