Pembiayaan dan Data Usaha Pesantren di Indonesia

 

Semua pesantren di Indonesia adalah lembaga swasta, dimana kemandirian menjadi salah satu ciri utamanya. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan (Dhofier, 1994).

Ketika masih berukuran kecil dengan murid hanya puluhan orang, dan kyai menjadi pengajar tunggal, maka pesantren dapat dikatakan seolah-olah menjadi milik pribadi kyai. Pada tahap ini kyai mampu memenuhi segala kebutuhan, termasuk kebutuhan tenaga pengajar dan kebutuhan ekonomi, karena kyai umumnya adalah kelompok mampu di pedesaan (Dhofier, 1994). Kebutuhan ekonomi pesantren relatif kecil dan mudah , karena hanya membutuhkan sebuah tempat pertemuan sederhana, yang dapat berupa rumah kyai itu sendiri atau masjid. Para santri tinggal di pondok-pondok yang dibangunnya sendiri dan memenuhi makannya secara sendiri-sendiri pula, sementara kyai hanya perlu memikirkan kebutuhan ekonomi keluarganya saja. Pada pesantren yang kecil tidak ditemukan adanya iuran yang tetap dari santri, kecuali sumbangan untuk kebutuhan penerangan (lampu atau listrik).

Namun, saat sekarang, khususnya bagi pesantren yang besar, iuran santri adalah sesuatu yang umum, yang biasanya langsung diambil dari potongan wesel. Adakalanya besar iuran tersebut tidak sama, karena santri yang kaya membayar lebih banyak, tentunya melalui kerelaan dan kesepakatan sebelumnya antara pihak pesantren dan keluarga santri. Bagi pesantren besar yang sudah berbentuk yayasan dan menerapkan jenis pendidikan dengan kurikulum Departemen Agama, pembayaran SPP sudah menjadi suatu yang umum dengan besar yang sudah ditentukan (Taryoto dkk., 1997; Rachmat dkk. 1998). Sumber lain bagi pemenuhan ekonomi pada pesantren yang sudah berbentuk yayasan adalah sumbangan masyarakat, usaha pesantren sendiri dan bantuan pemerintah.

Bidang ekonomi dapat dianggap relatif baru dalam dunia pesantren, khususnya dalam pengertian ekonomi dalam tataran konsep dan praktis, misalnya pengajaran keterampilan, kewiraswastaan, menjadikan pesantren sebagai badan usaha, dan lain-lain. Introduksi ekonomi ke pesantren sejak era 70-an telah dilakukan oleh pihak LSM dan pemerintah, meskipun keberhasilannya masih beragam ( Syahyuti ). Semenjak dekade 90-an telah cukup banyak pesantren yang menjadikan ekonomi sebagai aspek penting strukturnya, yang tidak hanya demi kepentingan kelancaran proses pendidikan, tetapi meluas kepada kemandirian pondok serta ekspektasi kemandirian alumninya.

Jenis Usaha Pondok Pesantren

Berdasarkan data tahun 2004, Secara geografis 83,83 % ( 12.286 ) dari jumlah pesantren berada di pedesaan, 8,46 % ( 1.240 ) berada di perkotaan dan 7,71 % ( 1.130 )berada di perbatasan keduanya. Letak geografis ini sangat mempengaruhi jenis usaha yang ada di pesantren.

Jenis usaha pesantren yang terdata oleh DEPAG dikelompokan kedalam 4 kelompok usaha, yaitu usaha perdagangan, agrobisnis, kerajinan tangan, dan Jasa.



Table 1

Jumlah Pondok Pesantren Penyelenggara Perdagangan

Tahun

2003

%

2004

%

2005

%

2006

%

toko buku

826

5,87

1.022

6,97

1.239

8,37

1243

7,76

toko bangunan

149

1,06

154

1,05

 –

413

2,58

warung serba ada

1.402

9,97

1.029

7,02

1128

7,62

1141

7,12

Koperasi

2.081

14,79

2.380

16,24

2084

14,08

2119

13,23

BMT[1]

262

1,86

292

1,99

492

3,32

444

2,77

jumlah pesantren

14.067

 

14.656

 

14.798

 

16015

 

Sumber Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan Depag

Jumlah Pondok Pesantren Penyelenggara Agrobisnis

tahun

2003

%

2004

%

2005

%

2006

%

sayur dan buah

2.138

15,20

655

4,47

812

5,49

962

6,01

padi

1.220

8,67

1.448

9,88

1692

11,43

1863

11,63

palawija

779

5,54

931

6,35

1119

7,56

1264

7,89

peternakan

2.493

17,72

3.117

21,27

1200

8,11

2407

15,03

perikanan

1.112

7,91

1.345

9,18

2217

14,98

1376

8,59

jumlah pesantren

14.067

 

14.656

 

14.798

 

16015

 

Sumber Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan Depag

Jumlah Pondok Pesantren Penyelenggara Kerajinan Tangan

tahun

2003

%

2004

%

2005

%

2006

%

anyaman

581

4,13

610

4,16

941

6,36

944

5,89

makanan

869

6,18

926

6,32

1162

7,85

1308

8,17

pertukangan

1.280

9,10

1.414

9,65

1582

10,69

1749

10,92

batako

691

4,91

800

5,46

914

6,18

1052

6,57

tekstil

668

4,75

586

4,00

897

6,06

992

6,19

jumlah pesantren

14.067

 

14.656

 

14.798

 

16015

 

Sumber Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan Depag

Jumlah Pondok Pesantren Penyelenggara Kegiatan Pelayanan Jasa

tahun

2003

%

2004

%

2005

%

2006

%

wartel

631

4,49

737

5,03

1.050

7,10

1207

7,54

klinik

257

1,83

357

2,44

462

3,12

635

3,97

cetak dan sablon

576

4,09

1.063

7,25

1.020

6,89

1212

7,57

listrik

313

2,23

396

2,70

515

3,48

766

4,78

fotocopy

217

1,54

244

1,66

484

3,27

710

4,43

jumlah pesantren

14.067

 

14.656

 

14.798

 

16015

 



[1] BMT adalah singkatan dari baitul maal wat tamwiil, jenis usaha ini berkembang sejak tahun 1992 dan didirikan atas inisiatif ICMI ( Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ). Jenis usaha ini mempunyai fungsi sebagai pengelola zakat, simpan pinjam syariah dan usaha riil seperti toko.

 

One response to “Pembiayaan dan Data Usaha Pesantren di Indonesia

  1. artikelnya cukup bagus , dan saya sangat menyambut baik adanya artikel yang mengupas masalah-masalah pesantren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s